Event : The Moral Imperative of Indonesia Education: A Practical Approach to Moral Education
Place : Sampoerna Strategic Square 25th floor
Day/date : Wednesday/20 May 2009
Coba inget2 waktu sekolah…. Kegiatan apakah yang sangat membosankan tapi kudu kita sekelas kompak lakuin? Ini ciri-cirinya: kadang2 kelas kita kebagian piket hari itu, pasti minggu sebelumnya udah mulai latihan, panas-panas, dan kudu diulang-ulang… nah pas hari H – nya, praktis semua peralatan kita yang nyediain. Seru kalo itu, tapi kalo acaranya… ngga deh…
Iyak bener! (eeh belum nebak ya… kelamaan…dah tak jawabin aja ya), yaitu:
U P A C A R A!
Ya kan… ngaku aja siapa yang demen siapa yang tidak… ga esensial… apaan coba? Berdiri, panas-panasan, hormat bendera, baca UUD, Pancasila, pesan dari pembina upacara, lagu wajib nasional. Udah paling ga seneng ikutan upacara…. Eeh malah dicalonin ikutan lomba upacara… eeeh….menang pula… hmm jadi deh, didaulat jadi dirigen aubade en serenade untuk pelajar sak alun-alun… 10 lagu! 3 tahun berturut-turut. Dahsyat kan! Pas SMP-SMA. Itu dulu… OK balik lagi ke… topik. Tgl 20 Mei… hubungannya ama Harkitnas. Nah yang nyrempet2 kan dengan hari besar nasional itu salah satunya dengan mendengungkan kembali “Pancasila” akan lebih baik lagi kalau sampai makna Pancasila yang diangkat.
Nah dengan mengundang sekitar 300 guru dan kepala sekolah, serta beberapa siswa, kami Sampoerna Foundation Teacher Institute memeriahkan Harkitnas dengan berkumpul bersama, mengkaji ulang sampai dimana sih Pancasila sebagai dasar negara ini dipahami oleh kita para guru.
Kalo gurunya paham benar, maka akan mudah menyampaikan konsep abstrak tersebut ke siswa.
Abstrak?
Yak karena bicara moral values, biasanya pembelajaran values, mengajarkan suatu nilai dengan metode yang umum dilakukan adalah ceramah dan hanya penyampaian sebatas pengetahuan/kognitif saja. Bagaimana cara nge-tesnya? Hayo coba, dari 45 butir-butir Pancasila, kita suka mix up antara satu dengan yang lain. Apalagi sila kedua ma kelima penjabarannya mirip, agak sama, atau malah tumpang tindih? :)
Pada hari itu, terobosan dalam pembelajaran value/nilai kembali disegarkan dengan berbagai permainan yang mengusung banyak nilai dalam penerapannya.
Permainan Balon
(peserta duduk berjajar berhadap-hadapan, jadi ada 2 baris… yaitu kelompok A dan Kelompok B, let say masing-masing kelompok terdiri dari 15 orang. Masing-masing kelompok tersebut, diperbolehkan menggiring balon agar masuk ke luar daerah lawan, yang kemudian dianggap gol. Menggiringnya pun memakai gulungan koran (hanya 4 orang yang memegang tongkat koran setiap kelompoknya), dan maaf, pantat tidak diperbolehkan terangkat dari kursi, serta balon tidak boleh tersentuh oleh tangan tetapi boleh menyundul. Kelompok yang menang adalah yang banyak mencetak angka karena berhasil melalui barisan kepala musuhnya, dalam waktu yang telah ditentukan). Nilai yang diterapkan adalah kerjasama, kekompakan, kesatuan, kejujuran, kepemimpinan, empati, percaya diri, pengabdian, kerja keras, dll.
Permainan Sarung
Peserta dibagi menjadi 2 baris, masing-masing berpegangan tangan. Peserta bagian ujung memasukkan sarung. Pada dasarnya sarung ini harus berjalan melewati setiap peserta yang berpegangan tangan tanpa membuka pegangannya. Barisan yang lebih dulu ’mengalirkan’ sarungnya dari ujung satu ke ujung yang lain akan menjadi pemenangnya. Nah kalo dalam permainan ini, ’nilai’ apa saja yang diusung? Ha…ha… banyaaaaak dan komplit. Bisa nyebutin?
Pas pulang, guru-guru ditodong ngasih komentar… ”waaah ga nyangka, ternyata belajar PKN ngga ngebosenin”… ”guru aja seneng… gimana anak-anak ya?”
Jiaaaaah.. bapak dan ibu guru yuk bermain sambil belajar, dijamin siswa Anda gampang mengerti, memahami lalu kemudian aplikasi semua nilai moral yang kita ajarkan. Ga percaya? Monggo dibukti-in… ntar sharing pengalaman ya… ojo lali
